Langsung ke konten utama

3 Jenis Bahan Pengawet Makanan yang Dilarang untuk Digunakan

Zaman sekarang ini perkembangan teknologi khususnya bidang pangan sudah dilakukan. Perkembangan tentang bagaimana pengolahan, pemanfaatan sumberdaya dan pemanfaatan bahan bahan kima sebagai alat untuk mengawetkan makanan sering dijumpai sebagai bentuk rekayasa pengolahan pangan.

Selain itu, bagi kalangan pengusaha yang bergerak pada bidang makanan mampu memproduksi bahan bahan olahan menjadi bahan siap pangan dengan pengawetan agar tidak mengalami resiko kerugian yang besar. Sayangnya, sebagian produsen makanan masih minim pengetahuan tentang bahan pengawet yang diizinkan oleh pemerintah melalui badan POM.

3 Jenis Bahan Pengawet Makanan yang Dilarang untuk Digunakan

Selain itu, memang sejatinya ada pengusaha nakal sengaja menggunakan bahan bahan pengawet yang dilarang ini  karena sangat menguntungkan dan harga cukup ekonomis. Beberapa bahan pengawet makanan dibawah ini perlu menjadi perhatian karena penggunaanya dilarang.

1. Boraks


Sebagian orang sudah tahu tentang larangan penggunaan boraks ini. Kenapa pemerintah melarang penggunaan boraks ini pada makanan ? ternyata boraks merupakan senyawa esensial yang peruntukannya bagi materi logam, pembuatan gelas, bahan anti jamur dan obat untuk kulit. bahaya boraks ini sangat beracun bagi semua sel dalam tubuh manusia.

Efek yang bisa ditimbulkan akibat penggunaan boraks ini dapat merusak segala organ dalam manusia seperti ginjal, hati dan susunan syaraf pusat (otak). Boraks ini lazim digunakan seorang pengusaha pangan nakal sebagai penahan terhadap serangan jamur sehingga makanan mentah siap saji dapat tahan lebih lama.

Penggunaan boraks sejatinya sudah dilarang sejak tahun 90an karena kadar yang terlalu tinggi akan merusak sistem manusia. Dosis fatal pada pemanfaatan bahan ini bagi orang dewasa hanya antara 15-20 gr. Efek yang langsung ditimbulkan akibat boraks ini dapat menyebabkan mual, nyeri hebat, muntah darah, diare sampa sakit kepala tak tertahankan.

2. Formalin


Merupakan senyawa untuk pengawet mayat. Lazim digunakan sebagai pengawetan tubuh manusia pada kedokteran dan penanganan mayat untuk proses outopsi. selain itu, Formalin ini memiliki fungsi sebagai pembersih lantai, kapal, pembasmi serangga dan bahan pembuat kain sutera. Penggunaan formalin pada makanan digunakan sebagai obat untuk memuat semakin awet dan lentur.

Biasanya penggunaan obat ini digunakan pada produsen mie, bakso dan aneka jajanan seperti siomay dan batagor. Kemampuan elektifitas yang tinggi serta pengawetan yang bisa bertahan lama dan harganya murah dijadikan alasan sebagian produsen menggunakan bahan obat ini. padalah, badan POM nasional sudah melarang penggunaannya selama 20 tahun terakhir.

Akibat penggunaan formalin ini sebagai bahan pengawet mampu menimbulkan penyakit pada saluran pencernaan. senyawa ini bersifat korosif sehingga sistem pencernaan akan rusak bila menelan bahan pengawet ini. Dosis fatal yang terjadi terakhir kali adalam 30 ml. Dimana penderita mengalami sakit pada lambung dan seseorang kehilangan metabolisme tubuh. Sehingga berbagai penyakit dapat menyerang dengan mudah.

3. Rodhamin B


Rodhamin ini berfungsi sebagai pewarna sekaligus antimon. Fungsi sebenarnya merupakan pewarna bagi tekstil, sabun, kayu emas dan titanium. Penggunaannya pada makanan sering disalah gunakan sebagai pewarna makanan. karakter nya yang mencolok dan murah harganya digunakan pengusaha nakal untuk menjadikan barang daganganya lebih menarik.

Rodhamin B juga dipergunakan untuk mengubah dan mengawetkan makanan terutama daging dan ikan agar terlihat segar. bahaya rodhamin sendiri bagi kesehatan dapat menumpuk kadar lemak dalam tubuh.  Akibat yang bisa ditimbulkan lainya adalah kerusakan hati dan memicu kangker.

Rodhamin B sendiri juga mampu meningkatkan resiko diabetes dan penyakit kulit apabila penggunaanya disalah gunakan pada makanan. Karena zat ini mampu menumpuk dan mengikat protein dalam lemak secara kuat sehingga protein tidak dapat diserap oleh tubuh.

Baca Juga: 11 Bahaya Kapur Sirih untuk Kesehatan Tubuh

Meskipun aneka perkembangan teknologi pangan yang sangat pesat, sebaiknya produsen menghindari ketoga jenis bahan pengawet makanan tersebut. Jangan sampai konsumen dengan kepercayaan yang telah dibangun lari dari usaha Anda yang sudah Anda rintis selama bertahun tahun.

Utamakan kualitas hasil produksi, dan jangan sampai mengenyampingkan faktor kesehatan dibalik keuntungan yang bisa diraup dari proses pengolahan dan pengawetan makanan. Produsen makanan yang baik pasti tahu melayani Konsumenya. Semoga bermanfaat.